Saturday, January 21, 2006

Lelaki Terindah


Andrei Aksana
Gramedia, Jakarta, 2004
ISBN 979 22 0815 1
219 halaman

Heran ya kalian saya nulis dalam bahasa Indonesia, padahal barusan nulis dalam bahasa Inggris? Itu karena yang diomongin buku Indonesia.
Keheranan kalian satunya pastinya kenapa pula baca buku dengan gambar depan seperti ini? Pengarang Indonesia kontemporer lagi. Belum juga kena batunya? Yah, setelah baca Fira Basuki (4 biji), Dewi Lestari (buku 2), Jenar (3 biji), terus siapa itu pengarang Jomblo (lupa), aku sudah menyerah dan beranggapan memang kehebatan penulis fiksi populer Indonesia sudah berhenti pada jamannya Marga T. (Bahkan Marga T sendiri akhir-akhir ini kurang sukses, tulisannya semakin tidak masuk akal. Kalau mau tidak masuk akal, sekalian saja ambil genre yang twisted macam gitu). Lah kok malah curhat. Pertanyaan belum terjawab. Gini: kenapa saya baca buku Andrei Aksana? Karena Adhie Nughie yang nyuruh no offence, Di. Lagian, saya tertipu dengan tulisan: Masterpiece di sampulnya. Selain itu, katanya, dia cucunya Sanusi Pane, kalo gak salah nih.

Oke, kita mulai saja dari sampulnya: eksklusif, man. Dengan gambar yang mungkin dimaksudkan untuk menarik minat pembeli (cewek, atau cowok gay), tapi terus terang malah bikin ilfil: gambar dada cowok yang berotot, naked chest, of course, dalam warna abu-abu keemasan. Satu-satunya yang menarik adalah tulisan Masterpiece itu tadi. Kita kan kalo mau baca buku yang ditulis seorang pengarang, baiknya mulai dari masterpiece-nya, biar kagak kecewa, gitu.
Balik ke sampul. Eksklusif, hitam (warna favoritku), model sampulnya seperti sampul buku hardcover (padahal bukan). Harganya… emmm…. Berapa ya, bukan saya beli sih. Tapi keliatannya 65 ribuan kali. Cukup mahal. Soalnya ni buku dijual bersama CD lagu dan videoklip. Salah satu strategi penjualan (dia kan orang marketing). Kelihatannya dia sudah melakukan ini untuk buku-bukunya yang sebelumnya, hence dia disebut “The Singing Author”. Gak pernah liat vidklip dan dengar suaranya sih.

Sekarang the story: cukup mudah ditebak. Ada dua cowok, Valent (pilihan namanya saja sudah menjelaskan) dan Rafky, ketemu di pesawat ke Thailand (nah, jelas kan cerita ini tentang apa?). Valent is a gay. Rafky menyangka dirinya hetero, eh ternyata melihat Valent yang manis, malah ikutan gay juga. Yah apalagi kalo suasananya (baca: lokasinya) mendukung. IMHO, pada dasarnya manusia itu di dalam dirinya punya kemampuan untuk biseks, tinggal tergantung lingkungan dan superegonya. Dan kelihatannya homoseksualitas kurang bisa disembunyikan (dikendalikan) dan lebih meminta pengakuan dibanding heteroseksualitas. Cowok-cowok gay berkeras untuk menikah dan hidup bersama, sedangkan cowok-cewek selalu berusaha untuk menjauhi komitmen resmi.

Mereka berdua sudah punya cewek, Valent malah sudah mau nikah. Segalanya jadi runyam waktu balik ke Indonesia. Mulailah timbul masalah, mengingat hubungan sesama jenis bukan hal yang bisa diterima.

Cerita disusun dengan gaya campur-campur prosa dan puisi. Sesuatu yang manis, sebenarnya. Tiap beberapa paragraf prosa, ada beberapa baris puisi. Tetapi karena aku dari dulu paling tidak mengerti puisi (mampunya hanya memahami syair-syair pantun Melayu yang terdiri dari 4 baris a-b-a-b bersampiran, atau puisi isi yang tersurat jelas), dan karena rasanya puisinya kadang diusahakan keliatan “nyambung” dengan ceritanya (padahal enggak), maka gaya ini terasa sangat mengganggu kontinuitas cerita.

Seksualitasnya juga ditulis terlalu mendetil, sehingga agak membosankan, dilewatin berhalaman-halaman juga tidak berpengaruh. Penulisnya sama sekali tidak memberikan tempat untuk berimajinasi. Akan terasa lebih indah kalau ditulis secara halus dan samar-samar. Tapi mungkin juga kekurangnyamanan ini karena aku produk jaman yang berbeda dari sang pengarang *mengernyitkan dahi*

Cerita ini mungkin dimaksudkan untuk menyentuh perasaan pembaca, untuk membuat kita berpihak pada tokoh-tokoh utama. Hal yang gagal dilakukan. Tokoh Kinan (pacarnya Rafky) malah lebih “tidak cengeng” daripada kedua tokoh utama. Aku memang tersentuh, tapi justru tersentuh beberapa puisi cinta yang kebetulan cukup bisa dipahami dan menyentuh hati. Juga untuk yang baru putus cinta, kayaknya puisi-puisinya bakal terasa menarik, karena serasa senasib-sepenanggungan dengan sang tokoh.

Buku ini kabarnya laris sekali. Bisa dipahami sih. Menulis tentang gay, lesbianisme, dan seks bebas sebagai sesuatu yang jamak dilakukan, pada jaman sekarang ini sangat dipandang dengan tatapan menghujat (yang munafik), tetapi sangat menjanjikan, karena pasti laris. Ingat fenomena Jakarta Undercover, yang notabene sebenarnya hanya potongan-potongan siaran pandangan mata sang penulis di tempat-tempat begituan, ditulis dalam gaya bercerita koran seks & kriminal. Ada edisi 2-nya, lagi. Tidak mengerti kenapa sekarang penulis-penulis fiksi populer seperti berlomba-lomba untuk mengambil topik sekitar seks. Katanya sih karena ini jaman kebebasan berpendapat, bahkan ada yang menyebut ini jaman emansipasi wanita yang berani menyuarakan tentang seks, padahal dulu malu-malu. Hey, telat rupanya. Sejak jaman dulu, sebenarnya seksualitas sudah banyak ditulis oleh penulis wanita Indonesia. Cuma lebih halus saja cara berceritanya. Tak perlu mendetil, tapi tujuannya sampai.

Kesimpulan untuk buku ini: gak baca juga gak papa, apalagi beli.

2 comments:

mina said...

aku sendiri menambahkan dikit:
kok plotnya nyenggol2 mirip Brokeback Mountain ya?

Anonymous said...

Quote: Gak baca juga gak papa, apalagi beli

I totally agree with the comment..hihihi Gue juga merasa 'tertipu' beli buku ini...so sorry to say it...but it's true =)